MAT-5F-1453

Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: “Long Life Education” atau belajar  sepanjang hayat. Pepatah ini begitu bertenaga memompa semangat masyarakat dunia untuk terus belajar, menggali ilmu pengetahuan sekaligus memperbaiki nasib. Sebab, dengan ilmu seseorang tidak hanya akan menjadi sosok yang memiliki ilmu dan pandangan maju, tetapi juga sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupannya. Sehingga, Perguruan Tinggi sebagai tempat menimba ilmu semakin tahun semakin bertambah peminatnya. Maka tidak heran setiap awal tahun ajaran baru, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) diserbu ribuan peminat untuk mendaftar menjadi mahasiswa.
Dalam menimba ilmu, masyarakat juga memperhatikan aspek kualitas, biaya dan fasilitas yang dimiliki oleh sebuah perguruan tinggi. Maka tidak heran, PTN sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk menunaikan layanan pendidikan disupport oleh APBN, sehingga kualitas pengajar terjamin dan tercukupi kesejahteraannya, biaya pendidikan murah serta fasilitas yang lengkap. Hal ini bertolak belakang dengan PTS yang dikelola oleh pihak swasta tanpa bantuan pemerintah. Biaya mahal, fasilitas tidak selengkap di PTN, dan kualitas pengajar yang kadang dipertanyakan tidak memenuhi kualifikasi.

Hal inilah yang mendasari ribuan calon mahasiswa berbondong-bondong mendaftar dan mengikuti seleksi masuk PTN meski harus bersaing dan berjibaku dengan ribuan calon mahasiswa lainnya untuk memperebutkan kuota kursi terbatas yang disediakan PTN. Bayangkan saja dari jumlah peserta SNMPTN 2012 seluruh Indonesia di 61 PTN sebanyak 618.804 orang, yang diterima hanya 181.197 orang. Kuota sedemikian sedkit diperebutkan oleh setengah juta lebih peserta.

Di satu sisi, tidak semua masyarakat Indonesia berasal dari golongan menengah ke atas yang memiliki uang cukup untuk kuliah di PTS yang semakin mahal. PTN yang memungut biaya murah pun menjadi idaman dan harapan bagi ribuan calon mahasiswa. Di sisi lain, PTN yang dikelola Pemerintah jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya calon mahasiswa yang mendaftar, sehingga kuota dibatasi. Tidak sedikit demi bisa lulus PTN, calon mahasiswa ikut persiapan berbagai lembaga bimbingan tes/belajar selama berbulan-bulan. Dan hal ini juga ikut menegaskan bahwa orang yang lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah orang-orang yang pintar, cerdas dan pilihan. Sebab sebuah kebanggaan tiada tara menjadi salah satu yang berhasil menembus PTN dengan menyisihkan ribuan lainnya yang gagal dan tidak lulus.

PTS Sebagai Alternatif

Mungkin Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hanyalah sebagai alternatif terakhir bila di ujian SNMPTN tidak lulus. Kesan ini membuat anggapan yang salah terhadap reputasi sebuah PTS selama ini bahwa: PTS adalah tempat kedua, tempat buangan, orang-orang bodoh, tempat anak-anak yang tidak lulus di SNMPTN berlabuh dan tempat kuliah orang berduit. Kenapa? Karena kenyataannya di PTS tidak ada seleksi masuk seketat di PTN. Cukup mendaftar, ujian masuk (yang kadang dipersepsikan hanya sekedar formalitas belaka), lalu langsung menjadi mahasiswa. Sebagai contoh perbandingan, lihatlah calon mahasiswa yang mengikuti ujian SNMPTN USU tahun ajaran 2012-2013. Sebanyak 35.591 orang berjuang memperebutkan jatah kursi yang amat sedikit. Demikian pula halnya di PTN lain seperti di Unimed, IAIN, apalagi sekelas UGM, UI, IPB dan lain-lain. Berbeda sekali dengan jumlah peminat yang mendaftar dan mengikuti ujian seleksi di PTS. Tidak sebanyak di PTN.

Padahal sesungguhnya, bila melihat ke lapangan, lulusan PTN maupun PTS tidak ada bedanya. Sama-sama menyandang gelar D1, D2, D3, S1. Yang membedakan hanyalah kemampuan, kompetensi, bakat dan keilmuan yang dimiliki. Sebab terkadang, tempat kuliah bolehlah di PTS, namun isi otak dan kemampuan melebihi lulusan PTN. Kenapa bisa terjadi?

Sederhananya begini. Materi ujian SNMPTN yang terdiri dari IPA (Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika, Kimia), IPS (Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Akuntansi, Sosiologi) maupun IPC (gabungan keduanya) bisa saja tidak semuanya dikuasai oleh mahasiswa yang tidak lulus ujian SNMPTN. Misalnya, seorang calon mahasiswa yang lemah Matematika, Sosiologi, namun pintar dalam Bahasa Inggris tidak lulus dalam ujian SNMPTN. Namun ketika menjadi mahasiswa di PTS dan mengambil jurusan Bahasa Inggris, kemampuan Bahasa Inggrisnya melebihi kemampuan rata-rata mahasiswa yang kuliah di PTN, bahkan mengungguli mahasiswa-mahasiswa pintar yang kuliah Bahasa Inggris di PTN.

Meluruskan Pandangan Salah

Dalam ranah prestasi, mahasiswa PTS sudah banyak yang mengungguli prestasi mahasiswa PTN, baik di kancah nasional maupun internasional. Sudah berapa banyak mahasiswa PTS yang mendapat beasiswa S2 di luar negeri, sudah berapa banyak yang memenangkan kejuaraan dan kompetisi nasional maupun internasional. Tidak usahlah disebut siapa contohnya. Nanti dikira pamer. Hal ini menegaskan bahwa mahasiswa PTS bukanlah seperti yang selama ini difikirkan banyak orang. Mahasiswa PTS juga bisa berbuat banyak dan tidak perlu minder asal benar-benar memenuhi syarat baik keilmuan, kemampuan, kompetensi dan kualifikasi yang menyamai dan melebihi lulusan PTN.

Biaya mahal di PTS memacu mahasiswa yang kurang mampu untuk kuliah sekaligus bekerja demi mendapat uang meringankan beban orang tua. Poin ini menuntun mahasiswa untuk mandiri, bekerja sekaligus memutar otak agar pelajaran di perkuliahan tidak ketinggalan. Hal inilah yang menyebabkan banyak mahasiswa PTS yang siap kerja dan bisa hidup di tengah masyarakat karena sudah terbiasa bekerja dan berbaur dengan masyarakat sejak di bangku perkuliahan. Hal ini bukan berarti bahwa mahasiswa PTN tidak seperti mahasiswa PTS. Pandangan ini diambil dari banyaknya mahasiswa PTS dari golongan kurang mampu yang kuliah sambil bekerja.

Yang terpenting bagi mahasiswa PTN dan PTS adalah jangan sampai salah memilih jurusan. Sebab, bila salah memilih jurusan, sama saja salah menentukan masa depan. Tidak sedikit mahasiswa yang gagal (drop out) di tengah jalan gara-gara tidak mampu lagi untuk kuliah disebabkan ketidakcocokan jurusan yang diambil dengan kemampuan otak maupun dana yang dimiliki. Paling tidak, dalam memilih jurusan harus mempertimbangkan segi kemampuan otak, bakat yang dimiliki, kemampuan biaya, prospek jurusan yang diambil serta hobbi yang dimiliki. Sebab, faktor-faktor tersebut ikut menentukan kualitas seorang mahasiswa baik PTN maupun PTS baik keilmuan, kemampuan, skill, kompetensi maupun kualifikasi yang dimiliki.

PTN dan PTS = Setara

Bukan maksud membanding-bandingkan mana yang terbaik antara PTS atau PTN. Namun, ingin meluruskan pandangan salah selama ini terhadap PTS, dan penegasan bahwa kuliah di PTN tidak lantas menjamin mahasiswanya berhasil begitu lulus kuliah dan berada di tengah masyarakat. Demikian pula berlaku bila kuliah di PTS. Namun, untuk menyikapi dengan arif bahwa menuntut ilmu bisa dimana saja, bisa di PTN maupun di PTS, hanya kualitas individulah yang menentukan seseorang sukses tidaknya di masa depan.

Jadi jangan bangga dulu bila berhasil menyisihkan ribuan calon mahasiswa lain dalam ujian SNMPTN. Karena berhasil tidaknya di masa depan ditentukan oleh keilmuan yang dimiliki, skill, kompetensi, kemampuan maupun bakat lain yang dimiliki seseorang itu sendiri. Dan hal tersebut tidak hanya didapat oleh mahasiswa PTN saja, namun juga bisa didapat oleh mahasiswa PTS. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: