MAT-5F-1453

Malaysia kembali menuai kontroversi. Seperti yang telah ramai diberitakan, pemerintah Maaysia akan segera mematenkan tari Tor Tor sebagai bagian dari budaya Malaysia. Padahal tarian yang sebenarnya bernama Manortor tersebut sudah dikenal masyarakat dunia sebagai tarian khas daerah Sumatera Utara.

 

Kantor berita Malaysia, Bernama, memberitakan, Menteri Budaya, Komunikasi dan Informasi Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim, mengatakan Tari Tor Tor dan Gordang Sembilan akan diakui dalam Undang-Undang Warisan Nasional 2005.

 

Hal itu dikatakan Rais ketika meresmikan peluncuran Komunitas Mandailing di Kuala Lumpur dan mengatakan mempromosikan seni dan budaya Mandailing adalah penting karena dapat memamerkan asal muasalnya, selain juga mengembangkan persatuan dengan komunitas-komunitas lain dan sejalan dengan konsep 1 Malaysia.

Tarian budaya suku Batak tersebut seringkali muncul di televisi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Hampir setiap turis asing yang telah mengunjungi Sumatera Utara, kerap disambut dengan tarian Tor Tor. Apalagi jika ada acara-acara resmi yang dilakukan pemerintah untuk menyambut para wisatawan asing tersebut.

Bahkan dalam pelajaran sekolah di Indonesia, tari Tor Tor sudah diperkenalkan sebagai ciri khas masyarakat Sumatera Utara, khususnya suku Batak.

Sejarah Tari Tor Tor

Nuansa seni tari Tor Tor atau Manortor tersebut memang memiliki gerakan yang unik yakni garakan tangan dan tubuh yang kaku, gerakan kaki berjinjit. Gerakan tersebut diiringi dengan iringan musik (Marhondang) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak dan beberapa alat musik khas lainnya.

Jenis tarian Tor Tor berbeda-beda. Ada yang dinamakan Tor Tor Pangurason (tari pembersihan), Tor Tor Sipitu Cawan (tari tujuh cawan) dan Tor Tor Tunggal Panaluan. Jika pada Tor Tor Pangurason digelar saat pesta besar untuk pembersihan tempat dan lokasi agar terbebas dari mara bahaya, Tor Tor Sipitu Cawan dilakukan untuk mengukuhkan seorang raja. Sementara itu Tor Tor Tunggal Panaluan digelar jika suatu desa dilanda musibah. Biasanya tari Tor Tor ini dilakukan para dukun untuk mencari solusi masalah tersebut.

Dari jenis tari dan maksudnya, Tari Tor Tor selalu berhubungan dengan roh. Menurut sejarahnya, tari Tor Tor memang dilakukan untuk memanggil para roh agar masuk ke dalam patung-patung batu yang merupakan simbol dari para leluhur. Karena itu gerakan Tor Tor adalah kaku karena dipercaya para roh melakukan tarian itu juga.

Namun saat ini, Tari Tor Tor sudah tidak lagi diasumsikan lekat dengan dunia roh. Tari Tor Tor menjadi sebuah budaya dan seni yang dikenal masyarakat dunia sebagai budaya tanah air.

Keindahan gerakan tari penuh makna

Para penari Tor Tor tidak sembarangan melakukan gerakannya. Sejumlah pantangan tidak boleh dilakukan sang penari, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas. Bila itu dilakukan, berarti si penari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu ‘perdukunan’ atau bela diri atau ilmu tenaga dalam lainnya.

Secara garis besar, terdapat empat gerakan dalam tarian Tor Tor yang sering disebut urdot. Pertama adalah Pangurdot, gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Lalu yang kedua adalah Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu/sasap. Selanjutnya yang ketiga adalah Pendenggal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Sementara itu gerakan keempat adalah Siangkupna yakni menggerakan bagian leher. Ulos atau kain khas suku Batak harus digunakan bagi para penari Tor Tor.

Menariknya, keindahan tari Tor Tor akan tampak jika si penarinya memiliki perasaan terhadap tujuan dari tariannya itu. Misalnya si penari melakukan tarian untuk orangtua yang meninggal. Akan tampak tarian tersebut memiliki ‘roh’ dan dapat menggetarkan siapa saja yang melihatnya.

Comments on: "Tari Tor-Tor di Klaim Malaysia" (2)

  1. mualleeeng..!! maleeng!!! TONG!TONG!TONG!!TONG!TONG!!!…

  2. sudah banyak budaya kita yang diclaim malaysia. kita harus tegas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: