MAT-5F-1453

Cerita Motivasi

KERIKIL KECIL

Suatu hari seorang pekerja proyek naik ke lantai gedung paling tinggi. Saat berada diatas, ia harus menyampaikan sesuatu yang penting pada temannya yg berada dibawah. Sekuat tenaga ia berteriak memanggil-manggil temannya itu namun yang dipanggil tidak mendengar sedikitpun lantaran suara bising mesin dan kendaraan proyek..

Tak lama kemudian ia punya ide, untuk menarik perhatian temannya itu dilemparnya sebuah koin yang jatuh didepan temannya. Temannya itu pun menghentikan pekerjaannya, mengambil uang itu lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Tiga kali diulangi, tiga kali pula temannya itu tak bergeming. Merasa jengkel dengan sikap temannya yang tetap cuek setelah mengantongi uang itu, pekerja yang diatas melempar kerikil dan jatuh tepat diatas batok kepala temannya yg ada dibawah tadi. Sambil meringis lantaran sakit, ia pun mendongakkan kepalanya ke atas. Saat itulah pekerja yg bertengkar disana baru bisa menyampaikan pesan penting tersebut.

Ilustrasi diatas adalah potret kecil dari kehidupan kita sehari-hari. Terkadang, Tuhan harus menjatuhkan ‘kerikil-kerikil’ untuk membuat kita mengadahkan wajah padaNya. Padahal tidak sedikit nikmat dan karunia yang diberikan, namun semua itu tidak cukup membuat kita menengadahkan wajah padaNya, tidak cukup membuat kita bersyukur tapi justru sebaliknya. Kita makin lupa terlena dan akhirnya lupa akan keberadaanNya.

Ya, semua masalah yang kita hadapi, semua cobaan yang kita temui, semua kejadiaan yang kita alami, semua cerita duka yang singgah ditelinga kita dan semua peristiwa yang mampir ke beranda rumah kita, semua itu hanya batu kecil, hanya kerikil yang Tuhan jatuhkan biar kita kembali ‘ngeh padaNya.

So, kerikil-kerikil itu mestinya bikin kita lebih arif menjalani hidup dan lebih bijak dalam bersikap serta bertindak. Bukan sebaliknya, membuat kita menjaga jarak dengan sang Maha.

Lalu, ‘suara bising’ itu adalah fasilitas dunia yang seringkali bikin kita terlena hingga lupa diri, mengabaikan kebahagian hidup yang lebih abadi. Semua itu adalah godaan, sayangnya kita lebih tertarik dengan godaan atau racun itu ketimbang menghindarinya. Kita lebih disibukkan dengan urusan dunia hingga lupa dengan kewajiban mengingatNya. Kita lupa bahkan mengabaikan perintahNya.

Dan salahkah yang punya kehidupan menegur kealpaan umatNya?

So, jadilah pekerja yang peka, yang bila berada ditempat sebising apapun tetap bisa mendengar seruan Yang Di Atas. Dengan kata lain, jadilah menusia santun yang tetap mengingat kebesaranNya, menyadari kekuasaanNya tanpa harus dijatuhi kerikil. Sebab cuma manusia bodoh yang untuk bisa mendongak ke atas harus ditimpuk terlebih dahulu. Semoga kita bukan orang-orang yang harus ditimpuk dan semoga kerikil-kerikil itu tidak menyentuh kepala kita. Ya semoga.

 

AIR MENDIDIH

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

 

GARIS  TANGAN

“Lihatlah telapak tanganmu..!”

Ada beberapa garis utama yg menentukan nasib.
Ada garis kehidupan.
Ada garis rezeki &
Ada pula garis jodoh.

Sekarang, menggenggamlah..
Dimana semua garis tadi ?
“Di dalam telapak tangan yg kita genggam.”

Nah, apa artinya itu?
Apapun takdir & keadaan kita kelak, semua itu ada dalam genggaman kita sendiri.

Kita lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tangan Kita.

Dan, begitulah rahasia sukses..
Berjuang & berusaha dengan berbagai cara utk menentukan nasib sendiri..

Tetapi coba lihat pula genggaman kita.
Bukankah masih ada garis yg tidak ikut tergenggam?

Sisa garis itulah yg berada di luar kendali kita.. Karena di sanalah letak kekuatan Sang Maha Pencipta yg kita tidak akan mampu lakukan & itulah bagianNya, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Genggam & lakukan bagianmu dengan kerja keras & kesungguhan, & bawalah kepada Tuhan bagian yg tidak mampu kita lakukan..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: